Noer Hoeda (Wanadri)

Salju di Tanah Papua dan 3 Destinasi Wisata Hijaunya

Berbicara keindahan alam dan destinasi wisata memang tidak ada habisnya. Wilayah daerah di Indonesia memiliki bermacam-macam keanekaragaman hayati dari;

  • Keanekaragaman genetik
  • Keanekaragaman Jenis (Spesies)
  • Keanekaragaman Ekosistem

Karena, zona geografi di Indonesia ini memiliki karakter yang berbeda-beda guys.

Selain itu, wilayah di Indonesia terdapat banyak pulau yang memiliki flora dan fauna endemik yang bermacam-macam, dan juga wilayah laut yang sangat luas dengan biodiversitas spesifiknya.

Itu sebabnya Negara Indonesia, keindahan alamnya tidak kalah jika dibandingkan dengan Negara lainnya. Pada artikel ini saya akan share pada kalian tentang “Salju di Tanah Papua dan 3 Destinasi Wisata Hijaunya“.

Geografi di Papua

Papua merupakan provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur wilayah Papua milik Indonesia. Belahan timurnya merupakan Negara Papua Nugini.

Provinsi Papua sebelumnya bernama Irian Jaya yang mencakup seluruh wilayah Papua Bagian barat.

Sejak tahun 2003, dibagi menjadi dua provinsi dengan bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya memakai nama Papua Barat. Provinsi Papua memiliki luas 316.553,07 km2 dan merupakan provinsi terbesar di Indonesia.

Provinsi Papua memiliki luas sekitar 316.553,07 km2, Pulau Papua berada di ujung timur dari wilayah Indonesia, dengan potensi sumber daya alam yang bernilai ekonomis dan strategis, dan telah mendorong bangsa-bangsa asing untuk menguasai Pulau Papua.

Kabupaten Puncak Jaya merupakan kota tertinggi di Pulau Papua, sedangkan kota yang terendah adalah Kota Merauke.

Sebagai daerah tropis dan wilayah kepulauan, Pulau Papua memiliki kelembapan udara relative lebih tinggi berkisar antara 80-89% kondisi geografis yang bervariasi ini mempengaruhi kondisi penyebaran penduduk yang tidak merata.

Pada tahun 1990 penduduk di pulau Papua berjumlah 1.648.708 jiwa dan meningkat menjadi sekitar 2,8 juta jiwa pada tahun 2006 dan 3.322.526 jiwa ditahun 2018. Dengan ketinggian 4.884 (MDPL), Puncak Jaya merupakan puncak tertinggi di Indonesia sekaligus di Oseania.

Papua Destinasi Wisata Hijau

Berbicara wilayah di Indonesia, pasti tidak akan jauh dari Papua. Karena, Papua itu Indonesia.

Kekayaan alam dan sumber hayati yang ada sangat melimpah, dari; hutan, gunung, lembah, bukit, pantai, penduduknya, dan juga keanekaragaman lainnya guys. Papua sebagian wilayahnya terdiri dari hutan lebat, gunung, dan laut.

Sebagian masyarakatnya masih ada yang menggunakan koteka (pakaian untuk menutup kemaluan laki-laki dalam budaya sebagian penduduk asli Pulau Papua), mereka sangat baik dan ramah. Masyarakatnya mengkonsumsi; ubi, sagu, dan juga nasi.

Berkunjung ke Papua, tidak lengkap jika tak singgah ke pantai-pantainya yang masih asri. Provinsi yang terletak paling Timur Indonesia ini memiliki pantai yang menakjubkan.

Pantai-pantai di Papua sangat mempesona dan berpasir putih. Selain bersih, pantainya menarik bagi para wisatawan, domestik maupun mancanegara.

Tempat di Papua yang Ingin Saya Kunjungi

Jika suatu saat berkesempatan berkunjung di Papua, saya ingin mendaki ke Puncak Carstensz, mengunjungi secara langsung Taman Nasional Lorentz, dan juga Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

Karena, tempat-tempat tersebut sangat menarik bagi saya. Untuk lebih jelasnya, saya uraikan keistimewaan dari 3 tempat yang ingin saya kunjungi melalui artikel ini.

Indonesia merupakan negara kepulauan, karena tidak hanya dikenal dengan keindahan pantainya saja. Selain belantara hutan dan wisata hijaunya, Indonesia juga memiliki banyak sekali gunung-gunung yang masih aktif dan juga gunung-gunung yang statusnya sudah tidak aktif lagi.

Jika berbicara wisata yang memacu adrenaline dan ekstrem, di Indonesia juga memilikinya. Bukti nyatanya yaitu, terdapat Puncak Tertinggi di Indonesia yang juga masuk kategori dalam Seven Summit World (7 Puncak Tertinggi Dunia).

Gunung ini memiliki ketinggian yang luar biasa, bahkan di gunung ini kalian bisa menemukan salju di Indonesia. Puncak Tertinggi di Pegunungan Jayawijaya, Papua-Indonesia.

1. Puncak Carstensz

Gunung ini pertama kali ditemukan oleh penjelajah kebangasaan Belanda, yang bernama Jan Carstenszoon pada tahun 1623, banyak orang-orang yang meragukan kesaksian dari penjelajah tersebut. Bahwa, mustahil di belahan bumi tropis terdapat salju atau gletser.

Puncak Carstensz berada di Pegunungan Jayawijaya yang mencakupi 3 kabupaten; yakni Puncak Jaya, Intan Jaya, dan Mimika.

Pegunungan tertinggi ini membelah, mulai dari Provinsi Papua Barat hingga mencapai hampir perbatasan sebelah Timur Indonesia. Puncak gunung ini menjulang setinggi 4.884 (MDPL) terletak lebih tinggi dari daratan manapun yang ada di Indonesia.

Belantara rimba yang masih rapat serta tanah berlumpur, merupakan sedikit bagian dari kesulitan untuk mencapai Puncak Tertinggi di Indonesia ini.

Iklim subAlpine yang beku ditambah dengan perubahan cuaca yang sangat cepat, menjadikan pegunungan ini sebagai lingkungan terkeras di seluruh Nusantara.

Indonesia memiliki gletser atau bongkahan es dari endapan salju di Puncak Jaya, Papua.

Namun, salju yang disebut sebagai es abadi itu, kini menyusut dalam tempo cepat dan akan menghilang dalam satu dekade. Hal ini terungkap dalam studi yang dipublikasikan di jurnal milik National Academy of Science, Amerika Serikat.

Berbicara soal salju, terdapat tiga puncak lagi di sekitar Puncak Carstensz yang memiliki panorama tersebut. Ketiganya adalah; Puncak Carstensz, Puncak Sumantri, dan Puncak Carstensz Timur.

Puncaknya juga diselimuti salju, tapi sekarang sudah menyusut karena salah satu efek dari global warming. Untuk jalur pendakian Carstensz Pyramid dapat melalui PT Freeport dan Sugapa Ugimba Carstensz.

2. Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional ini terletak di Provinsi Papua, Indonesia. Salah satu situs Warisan Dunia (World Heritage Site) dengan luas 2,4 juta hektar, dan juga merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara yang menjadikannya kawasan lindung terluas di Indonesia.

Memiliki jenis habitat yang beragam; dari rawa hingga hutan pegunungan tinggi. Gunung Jayawijaya merupakan salah satu gunung di Indonesia dengan puncaknya yang diselimuti salju, yaitu; Puncak Carstensz.

Wilayahnya juga terdapat persediaan mineral dan operasi pertambangan berskala besar aktif di sekitar taman nasional ini. Ada juga Proyek Konservasi Taman Nasional Lorentz yang terdiri dari sebuah inisiatif masyarakat untuk konservasi komunal dan ekologi warisan yang berada di sekitar Taman Nasional Lorentz.

Dari tahun 2003, WWF-Indonesia Region Sahul Papua sedang melakukan pemetaan wilayah adat dalam kawasan Taman Nasional Lorentz. Tahun 2003–2006, WWF telah melakukan pemetaan di Wilayah Taman Nasional Lorentz yang berada di Distrik (Kecamatan) Kurima Kabupaten Yahukimo, dan Tahun 2006–2007 pemetaan dilakukan di Distrik Sawaerma Kabupaten Asmat.

Nama Taman Nasional ini diambil dari seorang Penjelajah asal Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz yang melewati daerah tersebut pada tahun 1909 dalam ekspedisinya yang ke-10 di Taman Nasional ini.

3. Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Taman Nasional Teluk Cenderawasih berada di 5 wilayah dan dua propinsi. Yaitu Kabupaten Teluk Wondana dan Kabupaten Manokwari di Propinsi Papua Barat dan Kabupaten Nabire, Kabupaten Yapen dan Kabupaten Waropen di Propinsi Papua.

Komunitas lokal yang hidup di sekitar taman nasional ini memanfaatkan sumber daya laut sebagai sumber kehidupan.

Teluk Cenderawasih merupakan Taman nasional laut terluas di Indonesia 1.453.500 hektar. Memiliki lebih dari 500 spesies karang. Menjadi rumah bagi lebih dari 950 jenis ikan karang. Habitat bagi hiu paus (Rhincodon typus), dan ditetapkan sebagai taman laut nasional sejak tahun 2002.

Teluk Cenderawasih memiliki struktur geologi yang unik dan sejarah oceanographic yang sangat penting. Taman nasional laut ini memiliki terumbu karang yang luas dengan kualitas terbaik di dunia.

Survey yang dilakukan dengan melibatkan ahli terumbu karang dunia pada tahun 2006 menemukan lebih dari 500 jenis spesies terumbu karang dengan 14 spesies baru.

Pulau Purup dan Selat Numamurang adalah tempat terbanyak ditemukannya keanekaragaman hayati yang pernah dicatat di seluruh dunia. Ada lebih dari 950 spesies ikan karang ditemukan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih.

Kawasan ini merupakan rumah bagi populasi mega fauna termasuk hiu paus (Rhinocodon typus), ikan duyung (dugong dugon), Napoleon wrasse, penyu, dan populasi predator yang relatif sehat seperti hiu.

Tanah Papua

Dihimpun dari HUTANPAPUA.ID bahwa, “Pada tahun 2005-2009, luas hutan Papua 42 juta hektar (ha). Berselang tiga tahun kemudian yakni 2011 luas hutan Papua hanya tersisa 30,07 juta hektar.

Informasi yang didapat dari pemerintah daerah, setiap tahun rata-rata deforestasi di Papua sebesar 143.680 ha. Sedangkan laju deforestasi untuk Provinsi Papua Barat per tahun rata-rata sebesar 25 persen atau 293 ribu ha.​

Angka-angka di atas memperlihatkan tingkat kehilangan tutupan hutan yang cukup besar. Ekspansi industri yang berbasis lahan seperti; penebangan hutan, perkebunan, hutan tanaman, dan pertambangan adalah penyebab utamanya selain pemekaran wilayah administrasi pemerintahan.

Salah satu proyek ‘ambisius’ yang mengancam hutan Papua adalah Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Merauke yang pada tahap pertama hutan yang akan dibuka seluas 228.022 ha yakni perkebunan sawit milik PT. MEDCO di Manokwari (Sidey) 45.000 ha, perkebunan sawit PT. Hendrison Iriana di Kabupaten Sorong (Klamono) 21.500 ha, PT. Raja Wali Group/PT. Tandan Sawita Papua di Kabupaten Keroom (kampung Yetti) seluas 18.337 ha.

Hampir keseluruhan eksploitasi sumber daya alam Papua khususnya hutan menjadi semakin tidak terkontrol karena akses yang sulit dan fasilitas yang minim dari pemerintah, ini juga diperparah dengan perilaku oknum pemerintah yang tidak bijak.​

Tentang EcoNusa

Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa Foundation) merupakan organisasi nirlaba yang bertujuan mengangkat pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan di Indonesia dengan memberi penguatan terhadap inisiatif-inisiatif lokal.

Untuk itu, EcoNusa mendorong pembangunan dan pengembangan kapasitas kelompok masyarakat madani, bekerja sama dengan mereka untuk mengembangkan strategi untuk advokasi, kampanye, komunikasi, dan pelibatan pemangku kepentingan.

EcoNusa juga mempromosikan dialog antar pemangku kepentingan untuk semakin mengembangkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan sekaligus juga untuk mengangkat keadilan, konservasi, dan transparansi. Yayasan ini resmi berdiri sejak 21 Juli 2017 dan berbasis di Jakarta.

Yayasan EcoNusa menjembatani komunikasi antara pemangku kepentingan di wilayah timur Indonesia (Tanah Papua dan Maluku). Tujuannya untuk memaksimalkan praktik terbaik dalam hal perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berdasarkan prinsip keadilan melalui kegiatan nyata bersama masyarakat lokal.

Yayasan EcoNusa juga mempromosikan nilai-nilai kedaulatan pengelolaan dan konservasi sumber daya alam kepada para pembuat kebijakan baik di tingkat daerah maupun nasional.