The Eruption of Mount Raung (3.332 MASL)

Pendakian gunung merupakan kegiatan yang dilakukan di alam terbuka dengan melakukan perjalanan menaiki dan menuruni pegunungan. Gunung dengan segala aspeknya merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita, apalagi bagi mereka yang hidup di dataran rendah.

Itu sebabnya, pendaki gunung memerlukan kesiapan fisik dan mental untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di gunung. Perlengkapan yang tepat dan tingkat kebugaran jasmani yang prima merupakan usaha untuk meminimalisir bahaya saat akan melakukan pendakian gunung.

Peralatan pendakian yang tepat dan sesuai kebutuhan pada saat akan melakukan pendakian gunung, menjadi satu faktor lain yang mendukung keberhasilan suatu pendakian. Efektivitas peralatan dapat medukung faktor fisik dan mental seorang pendaki gunung.
Misalnya; ketika fisik kita sudah lemah, karena peralatan yang berlebihan akan menjadi hambatan. Itu sebabnya, sekarang teknik Ultralight Hiking sudah mulai berkembang pesat di Indonesia. Selain itu faktor alam dan cuaca ekstrem yang sulit untuk diprediksi, menjadi hambatan bagi pendaki.

Pentingnya kondisi fisik sebagai fondasi terwujudnya prestasi yang maksimal. Terutama dalam pendakian gunung; belum ada standar baku dari kondisi fisik itu sendiri, di mana pada keadaan alam terbuka sebuah gangguan sangatlah besar kemungkinan terjadi.

Apalagi tujuan dari sebuah petualangan di pendakian alam terbuka itu adalah untuk tujuan prestasi, maka kondisi fisik dari seorang atlet yang melakukan pendakian sangatlah penting.
Strategi untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan mendaki gunung sangatlah diperlukan melalui perencanaan yang matang dan faktor-faktor yang mendukung keberhasilan suatu pendakian gunung.

Antara lain, yaitu; faktor fisik seorang pendaki gunung. Pendaki gunung yang mempunyai tingkat kebugaran jasmani yang baik dapat melakukan suatu pendakian tanpa mengalami kelelahan yang berarti.

Banyak pendaki gunung yang belum sadar akan hal ini, sehingga mengakibatkan suatu pendakian terhambat. Faktor kelelahan atau bahkan terjadi kecelakaan; menjadi sebab hilangnya konsentrasi saat melewati jalur yang curam karena staminanya telah habis.

Faktor lainnya adalah sikap mental dari seorang pendaki gunung. Mental sekuat baja diperlukan oleh setiap pendaki gunung, karena di pegunungan kita akan menghadapi berbagai situasi dan kondisi yang tidak terduga.

Seperti; perubahan cuaca yang ekstrem, jalur-jalur pendakian yang terjal, bahkan tersesat sekalipun, hingga menyebabkan kematian.
Mendaki gunung merupakan olahraga ekstrem yang penuh petualangan. Kegiatan ini membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yang tinggi. Bahaya dan tantangan merupakan daya tarik dari kegiatan ini.

Pada hakekatnya, bahaya dan tantangan tersebut; untuk menguji kemampuan diri dan untuk bisa menyatu dengan alam. Keberhasilan suatu pendakian yang sukar, berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan melawan diri sendiri.

Olahraga mendaki gunung mempunyai nilai positif untuk menyalurkan minat dan bakat generasi muda yang senantiasa menginginkan hal-hal baru.

Melalui olahraga mendaki gunung ini generasi muda akan berkembang secara spontan dan dapat dipacu untuk memberikan rangsangan kepada jiwa muda yang suka akan tantangan, keuletan dan ketangkasan, serta kemampuan untuk menghadapi tantangan melalui kegiatan yang positif.

Mendaki gunung mempunyai tingkat dan kualifikasi yang berbeda. Seperti istilah mountaineering atau istilah lainnya mencakup pengertian perjalanan melintasi bukit hingga ekspedisi ke Himalaya.
Mountaineering menurut Solehudin (2006), terbagi menjadi;
  • Hill Walking
  • Fell Walking Scrambling
  • Climbing
  • Mountaineering
Gunung adalah sebuah bentuk tanah yang menonjol ke atas wilayah di sekitarnya. Sebuah gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada kesamaan dan penggunaannya tergantung dari adat lokal.

Syarat dari sebuah gunung menurut beberapa otoritas adalah; puncak yang mempunyai besaran tertentu yaitu 2.000 kaki (610 M), agar dapat didefinisikan sebagai gunung.

Indonesia merupakan negara yang memiliki gunung api yang banyak di dunia. Gunung api di Indonesia membentang mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Banda, Maluku, dan Papua". Sehingga disebut dengan istilah Ring Of Fire (Rahayu, 2014).
Berdasarkan pengamatan pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Indonesia memiliki gunung aktif dengan pengklasifikasian tiga kelompok berdasarkan sejarah letusannya yaitu; Tipe A, Tipe B, dan Tipe C.

  1. Tipe A sebanyak 79 buah yaitu; gunung api yang pernah meletus sejak tahun 1600.
  2. Tipe B sebanyak 29 buah yaitu; gunung api yang pernah meletus sebelum tahun 1600.
  3. Sedangkan untuk Tipe C yaitu; lapangan solfatara dan fumarole sebanyak 21 buah (Bemelen, 1949).
Bahaya letusan gunung api dibagi menjadi; bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer yaitu; bahaya yang langsung menimpa penduduk saat letusan berlangsung.

Misalnya awan panas, udara panas, dan lontaran bom hingga kerikil. Bahaya sekunder yaitu; bahaya yang secara tidak langsung dan umumnya terjadi setelah letusan terjadi. Seperti lahar dingin maupun kerusakan lahan dan pemukiman penduduk (Rahayu, 2014).

Erupsi ini selain merusak, erupsi juga membawa dampak yang sangat positif. Dampak positif setelah terjadi proses erupsi yaitu; menjadi semakin suburnya tanah sekitar lereng dan melimpahnya material dari bahan galian C di sekitar gunung api.
Gunung api memiliki erupsi yang berbeda dari setiap gunung berapi. Tipe erupsi terbagi menjadi beberapa yaitu, berdasarkan sumber energi dan sifat-sifat erupsi.

Erupsi berdasarkan sumber energinya, dibagi menjadi tiga tipe yaitu; Erupsi Magmatic, Erupsi Freatic (Hidrovulkanik), dan Erupsi Freatomagmatic.

  1. Erupsi Magmatic; merupakan erupsi yang berasal dari energi magmatik basaltik, encer, dan rekahan yang tidak tersumbat.
  2. Erupsi Freatic merupakan; erupsi yang berasal dari tekanan gas.
  3. Erupsi Freatomagmatic merupakan; erupsi yang berasal dari tekanan magma yang sangat tinggi.

Erupsi gunung api berdasarkan sifat-sifat erupsi dibagi menjadi beberapa bagian yaitu; tipe erupsi Hawai, tipe erupsi Stromboli, tipe erupsi Vulkanian, tipe erupsi Plinian, tipe erupsi Merapi, dan tipe erupsi Skoria (Rahayu, 2014).

Erupsi gunung api dapat dipicu oleh beberapa hal, baik pergeseran lempeng maupun interaksi antar gunung api. Wilayah di Indonesia merupakan negara yang memiliki ribuan pulau dan memiliki banyak gunung api yang aktif dalam pulau tersebut.

Pertemuan tiga lempeng (Triple Junction) inilah yang membentuk Indonesia banyak timbul gunung api. Deretan gunung api di Indonesia terletak pada busur mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Pertemuan lempeng tersebut yang memicu timbulnya gunung-gunung api di daerah yang membentang dari Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Wilayah di Indonesia merupakan negara yang terletak pada pertemuan ketiga lempeng benua. Pertemuan lempeng tersebut menyebabkan subduksi, sehingga timbul gunung api.

Daerah di Indonesia memiliki sekitar 139 gunung api aktif. Gunung Raung merupakan gunung api yang masih aktif. Gunung ini merupakan gunung api yang memiliki kaldera. Jika Anda ingin mendaki ke Gunung Raung, persiapakan logistik dan manajeman air dengan baik. Sebab, perjalanan menuju Puncak Sejati (3.332 MASL) tidak terdapat sumber air.

Gunung Raung di kalangan pendaki sering dijuluki trek terekstrem di Pulau Jawa. Gunung Raung merupakan bagian dari pegunungan Ijen yang terdiri dari berbagai gunung. Gunung Pendil (2.338 MASL), Gunung Ijen (2.443 MASL), Gunung Rante (2.664 MASL), Gunung Suket (2.950 MASL), dan beberapa gunung lainnya.

Untuk pendakiannya, Gunung Raung dapat didaki melalui jalur klasik (Sumber Waringin, Bondowoso). Sedangkan ketiga jalur lainnya terdapat di Banyuwangi, yaitu; Via Glenmore, Via Jambewangi, dan jika Anda ingin mendaki sampai Puncak Sejati (3.332 MASL), Anda harus mendaki melalui jalur Kalibaru.
Jika mendaki ke Gunung Raung, Anda dapat melihat pemandangan yang luar biasa deretan pegunungan Jawa Timur, yaitu; Gunung Argopuro, Gunung Semeru, Gunung Ijen, Kawah Ilalang, dan Kawah Wurung. Selain itu, Gunung Raung juga memiliki kaldera kering terbesar di Pulau Jawa dan terbesar kedua di Indonesia setelah Gunung Tambora yang berada di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Gunung Raung merupakan gunung api aktif yang berada dalam deretan gunung api di Pulau Jawa. Gunung Raung ini memiliki ketinggian (3.332 MASL). Secara lokasi administrative, Gunung Raung termasuk dalam tiga wilayah; Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Jember (A.Wildani, 2013).

Gunung Raung merupakan tipe gunung yang bertipe Strombolian. Proses erupsi yang terjadi pada bulan Juli 2015, merupakan proses kelanjutan erupsi yang terjadi pada erupsi ke-14. Selang waktu erupsi ke-14 dan ke-15 berselang sekitar 26 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa proses erupsi yang terjadi pada Juli 2015, termasuk dari erupsi interval waktu menengah (A.R. Mulyana, 2007).

Gunung Raung merupakan tipe gunung Strombolian yang aktif di mana gunung ini memiliki kaldera dan memiliki riwayat erupsi yang panjang. Selain itu, Gunung Raung ini mempunyai riwayat ledakan erupsi yang dahsyat pada ratusan tahun yang lalu.

Sedangkan di lingkungan masyarakat sekitar Gunung Raung, kurang begitu paham akan adanya manfaat Gunung Raung. Hal ini dibuktikan kurangnya pengembangan jenis-jenis tanaman yang mendukung untuk komoditas ekspor di lingkungan Gunung Raung.

Selain dari hasil pertanian, Gunung Raung juga mendukung untuk pendidikan, di mana faktor pengembangan laboratorium fisika alam menjadi materi terbaik untuk gunung api.

Gunung Raung ini sendiri merupakan salah satu gunung api strato aktif berbentuk kerucut terpancung, muncul di lereng barat Kaldera Ijen. Dominasi produknya berupa lava dan piroklastik sehingga morfologi hasil bentuknya menyajikan bentang alam kasar.

Gunung Raung mulai erupsi dalam sejarah tercatat dimulai dari tahun; 1586, 1597, 1638, 1953, dan 1956. Letusan yang dahsyat dan diikuti dengan banjir besar dan aliran lahar yang melanda daerah sekitar bencana.

Gunung api memiliki sifat slow in set. Artinya tidak akan tiba-tiba meletus. Ada tanda-tandanya, sehingga status gunung punya tahapan yaitu dari normal kemudian menjadi waspada, siaga, dan awas sesuai ancamannya.

Berdasarkan hasil yang didapat disimpulkan bahwa Gunung Raung akan memiliki potensi erupsi yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Selain itu Gunung Raung juga memiliki tingkat kebahayaan yang rendah karena berada pada radius yang jauh dari pemukiman warga.

Dalam hasil analisis kimia dari batuan beku dan pasir menunjukkan bahwa tanah sekitar gunung api memiliki peluang baik untuk berkembang dalam sektor pertanian dan perkebunan. Selain itu banyaknya media alam akan mendukung potensi belajar fisika yang lebih aplikatif.

Setelah pembahasan tentang The Eruption of Mount Raung (3.332 MASL). Untuk artikel selanjutnya, saya akan share tentang perjalanan pendakian di Gunung Argopuro yang terkenal dengan trek terpanjang di Pulau Jawa.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, silakan Anda share artikel ini agar bermanfaat untuk yang lainnya.

Related Posts

Subscribe Newsletter