3 Altitude Sickness yang Dapat Menyerang Pendaki

Untuk seseorang yang hoby naik gunung kemungkinan akan terserang penyakit ketinggian atau yang disebut altitude sickness akan semakin tinggi, jika dibandingkan dengan seseorang yang berada di dataran rendah.

Dilansir dari AloDokter bahwa, "Penyakit ketinggian dapat disebabkan oleh kelembaban udara yang rendah, udara dingin, radiasi ultraviolet, dan penurunan tekanan udara".

Saat seseorang berada di dataran tinggi, kadar oksigen akan semakin tipis. Sehingga, tubuh seseorang harus bernapas lebih cepat untuk mendapatkan lebih banyak oksigen. Penyakit ketinggian bisa muncul saat seseorang mencapai di ketinggian 2.500 Mdpl.
Maka dari itu; seorang pendaki, penggiat alam bebas, ataupun orang yang awam di kegiatan outdoor harus tahu gejala-gejala saat seseorang terserang penyakit ketinggian, beserta bagaimana cara penanganan yang tepat dan benar. Sehingga, dapat meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan dan menyebabkan kefatalan, bahkan kematian.

Pada artikel ini, saya akan share jenis penyakit-penyakit yang dapat menyerang seseorang saat berada di ketinggian.

Penyakit ketinggian ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu; Acute Mountain Sickness (AMS) yang termasuk dalam kategori ringan, beserta High Altitude Cerebral Edema (HACE), dan High Altitude Pulmonary Edema (HAPE) yang termasuk dalam kategori berat.

1. Acute Mountain Sickness

AMS bervariasi dari ringan hingga parah. Gejala utama terjadinya akumulasi cairan di sekitar otak.

Gejala;

  • Pusing.
  • Kelelahan dan lemas.
  • Kehilangan nafsu makan, mual, atau muntah.
  • Susah tidur, sering terbangun, dan pernapasan berkala.
  • Sakit kepala, berdenyut, dan memburuk saat membungkuk atau berbaring.
Penanganannya;
Mekonsumsi obat Acetazolamide dapat meringankan sakit kepala, tapi tidak dapat mengatasi kondisi ini. Untuk penderitanya segera bawa turun ke tempat yang lebih rendah.

2. High Altitude Cerebral Edema

HACE disebabkan oleh akumulasi cairan di dalam dan di sekitar otak. Gejala AMS lebih buruk ketika akan mencapai HACE, penyakit HACE menyerang seseorang dengan sangat cepat. Sehingga gejala AMS kadang tidak disadari.

Gejala;

  • Mual dan muntah.
  • Tingkat kesadaran menurun.
  • Sulit berjalan dan terjatuh.
  • Kehilangan koordinasi fisik (ataksia).
  • Halusinasi, penglihatan kabur atau ganda.
  • Perubahan perilaku menjadi tidak kooperatif, agresif, atau apatis.
  • Hilangnya kemampuan mental seperti mengingat atau berhitung.
  • Sakit kepala parah, tidak membaik meski meminum ibuprofen, paracetamol, atau aspirin.
  • Kecanggungan dan mengalami kesulitan melakukan hal-hal yang sederhana.
  • Menjadi bingung, mengantuk, setengah sadar, pingsan, dan akan kehilangan nyawa jika tidak diobati segera.
Penanganannya;
Turun gunung adalah pengobatan yang paling tepat bagi penderita yang terserang HACE. Karena, hal ini tidak boleh ditunda lagi. Untuk tindakan sementara, penderita dapat dibawa menggunakan Gamow bag, berikan juga oksigen, dan dexamethasone.

3. High Altitude Pulmonary Edema

HAPE terjadi akibat adanya akumulasi cairan di paru-paru, tanda terpenting dari kondisi ini adalah sesak napas. Penyakit HAPE muncul tanpa gejala dari AMS dan dapat berkembang sangat cepat.

Kondisi ini sering berkembang pada malam kedua di ketinggian, penyakit HAPE juga dapat berkembang ketika turun dari ketinggian.

Inilah sebabnya, jenis penyakit HAPE menjadi penyakit ketinggian yang paling mematikan. Penyakit HAPE lebih mungkin terjadi pada orang dengan penyakit pilek atau infeksi dada. Namun, seringkali dianggap sebagai infeksi dada (pneumonia).

Gejala;
Pada tahap awal, seseorang yang terserang HAPE; merasakan sesak napas lebih terengah-engah dari biasanya dan dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengembalikan napas normal.

Pada tahap lanjut; ditandai sesak napas saat mendaki, dan membutuhkan waktu yang lama untuk kembali normal, lalu berkembang menjadi sesak napas saat beristirahat. Penderita akan menjadi terengah-engah sambil berbaring datar dan lebih menyukai tidur disangga.

Penanganannya;
Penanganan terpenting adalah turun gunung. Sediakan oksigen tambahan atau menaikkan tekanan udara di sekitar korban dengan memasukkannya ke dalam Gamow bag.

Mengkonsumsi beberapa obat dapat membantu. Namun hal itu hanya dapat digunakan oleh dokter atau paramedis terlatih. Obat Nifedipine, dapat digunakan untuk membuka pembuluh darah di paru-paru. Jenis obat tersebut hanya untuk penangganan sesaat.

Penyebab penyakit ketinggian saat naik gunung. Salah satunya adalah, saat seseorang mendaki di ketinggian dengan ritme yang terlalu cepat. Kadar oksigen yang rendah, membuat tubuh beradaptasi di lingkungan sekitar tidak dapat berjalan dengan optimal. Maka dari itu, teknik aklimatisasi saat mendaki sangat penting dan bermanfaat bagi pendaki.

Tips untuk Pendakian;

Pada saat melakukan pendakian di hari pertama dan saat ingin mendirikan tenda, hindari mendirikan camp di ketinggian yang lebih dari 2.500 Mdpl.

Karena, gejala penyakit ketinggian bisa berisiko menyerang lebih cepat. Mendaki perlahan setelah melewati ketinggian 2.500 Mdpl, menjadi pertimbangan yang lebih tepat. Lakukan teknik aklimatisasi dan pilih area ketinggian yang lebih rendah untuk camp di malam hari.
Jika seseorang memulai menyadari mual, pusing, pengelihatan mata kabur, napas bermasalah lebih dari yang bisa ditolerir, kehilangan koordinasi, segera turun ke tempat ketinggian yang lebih rendah. Karena, teknik ini menjadi pengobatan terbaik untuk penyakit ketinggian.

Uraian itu tadi deskripsi tentang jenis-jenis penyakit ketinggian yang dapat menyerang seseorang saat berada di ketinggian dan cara penanggannya, beserta tips untuk melakukan perjalanan saat pendakian. Semoga bermanfaat dan silakan share artikel ini untuk pembaca yang lainnya. Terima kasih.

Related Posts

Subscribe Newsletter